Ongkos, keuntungan, dan dampak[sumber]
Hingga Mei 2012, 184 kota telah membangun sistem angkutan cepat.[50] Modal awalnya memang tinggi, karena adanya risiko pembengkakan dana dan berkurangnya keuntungan, maka pembiayaan publik umumnya diperlukan. Angkutan cepat umumnya dilihat sebagai alternatif transportasi jalan;[51] dengan adanya angkutan cepat maka bisa memenuhi kapasitas yang lebih besar dengan pemakaian tanah lebih kecil, dampak pada lingkungan lebih kecil, serta pengoperasian lebih rendah.[52]
Sistem melayang atau bawah tanah di pusat kota membuat transportasi penumpang tanpa menggunakan tanah yang mahal, dan kota juga dapat mengembangkan tanpa halangan fisik. Stasiun angkutan cepat umumnya memunculkan kawasan hunian dan komersial, dengan pengembangan kantor berorientasi transit juga tumbuh.[51][53]
Sistem angkutan cepat memiliki biaya tetap tinggi. Sebagian besar dimiliki pemerintah, entah oleh pemerintah lokal, otoritas transit, atau pemerintah nasional. Modal awal umumnya dibagi atau sepenuhnya dibiayai pajak. Sistem ini dioperasikan dapat dioperasikan pemilik atau perusahaan swasta melalui public service obligation. Pemilik sistem umumnya juga memiliki sistem bus atau rel lain, atau anggota dari asosiasi transportasi lokal, sehingga memungkinkan bebas transpfer antar mode. Hampir semua sistem angkutan cepat beroperasi merugi, maka membutuhkan pemasukan tarif, iklan, dan subsidi untuk menutup biayanya.
Rasio pengembalian tiket, rasio dari pendapatan tiket terhadap biaya operasi, digunakan untuk menilai keuntungan operasional, dengan beberapa sistem seperti MTR Corporation(Hongkong),[14] dan Taipei[54]
dapat mencapai rasio pengembalian lebih dari 100%. Hal ini mengabaikan modal awal pembangunan sistem yang besar, yang biasanya disubsidi dengan pinjaman lunak[16] dan biasanya tidak terhitung dalam perhitungan keuntungan.
Costs, profits and impacts
Docklands Light Railway in London is built on dense land but its capacity can still be high Until May 2012, 184 cities had built a fast transit system. [50] Initial capital is indeed high, because of the risk of swelling funds and reduced profits, public funding is generally needed. Fast transportation is generally seen as an alternative to road transportation; [51] with fast transport it can meet larger capacity with less land use, less impact on the environment, and lower operation. [52] Floating or underground systems in the city center make passenger transportation without using expensive land, and cities can also develop without physical obstacles. Fast transit stations generally create residential and commercial areas, with the development of transit-oriented offices also growing. [51] [53]
The fast transit system has high fixed costs. Most are owned by the government, whether by local government, transit authority, or national government. Initial capital is generally divided or fully taxed. This system can be operated by the owner or private company through a public service obligation. The owner of the system generally also has a bus or other rail system, or a member of a local transportation association, thus allowing free transfer between modes. Almost all fast transit systems suffer losses, so they require tariffs, advertisements and subsidies to cover the costs.
Ticket return ratio, the ratio of ticket revenue to operating costs, is used to assess operating profits, with several systems such as MTR Corporation (Hong Kong), [14] and Taipei [54] able to achieve a return ratio of more than 100%. This ignores the initial capital of large system development, which is usually subsidized with soft loans [16] and is usually not counted in the calculation of profits.







0 #type=(blogger):
Post a Comment