Palembang Light Rail Transit
LRT Palembang rolling stock train made by PT Inka, parked at LRT Depo near OPI Mall.
| |
The Palembang Light Rail Transit (Palembang LRT) is an operational light rail transit system in Palembang, Indonesia which connects Sultan Mahmud Badaruddin II International Airport and Jakabaring Sport City. This is the first Light Rail Transit ( LRT ) in Indonesia.
The system is owned by Directorate General of Railways, Ministry of Transportation of the Republic of Indonesia, Government of South Sumatra, and Government of Palembang, and operated by the state-owned Indonesian Railway Company (PT Kereta Api Indonesia).
Starting construction in 2015, the project was built to facilitate the 2018 Asian Games and was completed in mid-2018, just a few months before the event. Costing Rp 10.9 trillion for construction, the system is the first operational light rail transit system in Indonesia, and utilizes trains made by local manufacturer PT INKA. The system's only line has a total of 13 stations, with fully grade-separated by viaduct.
Construction and costs[edit]
By 2012, the provincial government already had plans for a transit system in the city, signing a MoU with investors to construct a 25-kilometre long (16 mi) monorail system connecting the city's airport and Jakabaring Sport City.[3] However, the monorail project was replaced by a light rail transit (LRT) in 2015 since Governor of South Sumatra Alex Noerdin thought that LRT is more effective in reducing traffic congestion.[4]
As Palembang was to host the 2018 Asian Games, the project was pushed to be completed before the event began.[5] Groundbreaking for the project occurred on November 2015, with state-owned company Waskita Karya being appointed as the primary contractor following the issuance of Presidential Regulation 116 of 2015 on Acceleration of Railway Train Operation in South Sumatera Province.[1][6] The contract, which was signed in February 2017, was initially valued at Rp 12.5 trillion.[7][8] Construction was scheduled for completion in February 2018, with commercial service beginning in May 2018.[9] However, the completion date was moved to June 2018 with operations beginning in July, only one month before the Asian Games.[10]
A test run was done on 22 May 2018 and was inaugurated by President Joko Widodo on 15 July 2018.[10][11] Operations for the LRT started on 1 August, several days before the Jakarta LRT began running, making it the first operational LRT system in the country.[12] The final value of the contract was Rp 10.9 trillion (USD 755 million).[12] The reduction in cost was due to a review by supervising consultants from SMEC International.[8] Close to the start of the event, the trains often encountered operational issues.[13] Waskita initially paid for the construction, with the government reimbursing the fees over a four-year period.[14]
Prominent opposition figure and Gerindra leader Prabowo Subianto criticized the cost of construction, claiming that typical LRT lines worldwide cost USD$8 million/km to construct while the Palembang LRT cost USD$24 million/km.[14] As a comparison, the Sheppard East LRT in Toronto cost USD$56.7 million/km.[15]The Palembang LRT project leader compared the higher cost to other projects nearby: the Kelana Jaya line (USD$65.52 million/km) and the Manila Light Rail Transit Line 1 extension (USD$74.6 million/km).[14]
Specifications[edit]
Rolling stock[edit]
The line has 13 stations operational as of August 2018 from DJKA to Airport.[21] In each station, the trains have a transit time of approximately 1 minute, except for the two terminuses at the depot and airport, where they stop for 10 minutes.[22] 5 of the 13 stations are connected with skybridges to surrounding buildings.[23]
Plans are in place to integrate the LRT with the existing Trans Musi bus service.[24]
Track[edit]
The train uses a 1,067 mm (3 ft 6 in) ballastless, elevated track. The signalling for the track uses fixed-block signalling. Stretching 23.4 kilometres (14.5 mi) between the airport in the northwest and its depot in the southeast, the track is supported by 9 electrical substations and a third rail.[1][22] After passing Ampera station, the train crosses the Musi River next to the Ampera Bridge.[25]
Ridership and fares[edit]
The fare separates passengers riding to and from the airport and those who do not, with the former paying a higher fare of Rp 10,000 while the latter paying Rp 5,000.[28] Initial fares are subsidized by the government, which expects to spend between Rp 200 and 300 billion (USD$14 to $20 million) annually until the ridership can cover operational costs.[24]
The earliest LRT runs from the city at 04:48am and the latest LRT runs from the Sultan Mahmud Badaruddin II International Airport at 07:30pm
Lintas Rel Terpadu Palembang
| Lintas Rel Terpadu Palembang | ||
|---|---|---|
| Info | ||
| Pemilik | Direktorat Jenderal Perkeretaapian Pemerintah Kota Palembang Pemerintah Provinsi Sumatra Selatan | |
| Wilayah | Palembang, Indonesia | |
| Jenis | Lintas Rel Terpadu | |
| Jumlah jalur | 1 | |
| Jumlah stasiun | 13 | |
| Penumpang harian | 4.000 hingga 5.000 orang per hari (rata-rata) | |
| Operasi | ||
| Dimulai | 1 Agustus 2018[1] | |
| Operator | PT Kereta Api Indonesia Divisi Regional III Palembang | |
| Waktu antara | 30 menit | |
| Teknis | ||
| Panjang sistem | 24,5 km | |
| Lebar sepur | 1.067 mm (3 ft 6 in) | |
| Listrik | 750 V DC rel ketiga | |
| Kecepatan rata-rata | 40 km/h (25 mph)[2] | |
| Kecepatan tertinggi | 80 km/h (50 mph)[2] | |
| ||
Lintas Rel Terpadu Palembang (nama resminya LRT Sumatra Selatan) adalah sebuah sistem angkutan cepat dengan model Lintas Rel Terpadu yang beroperasi di Palembang, Indonesia, menghubungkan Bandar Udara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin IIdengan Kompleks Olahraga Jakabaring. Pembangunan LRT ini difungsikan sebagai sarana transportasi penunjang warga Palembang dan sekitarnya, termasuk untuk menunjang mobilitas penonton dan atlet pada Pesta Olahraga Asia 2018.[3][4] Diperkirakan proyek ini menghabiskan dana sedikitnya Rp10,9 triliun rupiah.[5]
LRT ini dioperasikan oleh PT Kereta Api Indonesia Divisi Regional III Palembang.
Sejarah[sumber]
Pada awalnya Palembang merencanakan membangun monorel dari Bandar Udara Sultan Mahmud Badaruddin II ke Kompleks Olahraga Jakabaring sebagai alternatif transportasi umum karena berdasar penelitian yang ada, kota Palembang akan mengalami macet total pada 2019 mendatang.[6]
Dalam rangka menyambut Pesta Olahraga Asia 2018 di Palembang, rencana pembangunan monorel tersebut kemudian dibatalkan karena kesulitan mencari investor yang dapat menyelesaikan pekerjaan tepat waktu serta proyek dianggap kurang menguntungkan. Monorel kemudian diganti dengan LRT yang dianggap lebih efektif. Proyek senilai Rp9,4 triliun ini diminta dibiayai oleh Pemerintah Pusat melalui APBN dan penugasan konstruksi pada BUMN.[7][8]
Presiden Joko Widodo kemudian menandatangani Perpres Nomor 116 Tahun 2015 tentang percepatan penyelenggaraan kereta api ringan di Sumatra Selatan tanggal 20 Oktober 2015. Menurut Perpres, pemerintah menugaskan kepada PT Waskita Karya Tbk untuk membangun prasarana LRT meliputi jalur termasuk konstruksi jalur layang, stasiun dan fasilitas operasi. Pendanaan proyek di 2016 akan dibiayai PT Waskita Karya. Selanjutnya, pemerintah melalui Kementerian Perhubungan akan mengalokasikan anggaran pembiayaan proyek tersebut pada APBN 2017 dan 2018.[9][10]
Pembangunan prasarana LRT Palembang selesai pada Februari 2018. Serangkaian uji coba dilaksanakan sejak Mei hingga Juli 2018, termasuk uji coba terbatas dengan penumpang pada 23-31 Juli 2018.[11] Operasi penuh LRT Palembang dimulai pada 1 Agustus 2018, dengan 6 stasiun prioritas dibuka untuk melayani penumpang dari dan menuju tempat pertandingan Pesta Olahraga Asia 2018.[1]
Spesifikasi[sumber]
Armada[sumber]
Hingga Agustus 2018, sebanyak delapan rangkaian kereta ringan yang diproduksi PT Industri Kereta Api tiba di Palembang sejak April 2018, masing-masing rangkaian kereta terdiri dari tiga gerbong.[12] Setiap rangkaian kereta mampu mengangkut hingga 722 penumpang: 231 penumpang di gerbong pertama dan ketiga, dan 260 orang di gerbong kedua. Sementara, kapasitas tempat duduk sebanyak 78 penumpang.[13] Rangkaian kereta dapat mengangkut penumpang dari Bandara SMB II menuju Jakabaring dengan waktu tempuh sekitar 30-45 menit.[14]
Kereta ini memiliki sistem daya kelistrikan 750 V DC dengan aliran listrik rel ketiga.[15] Setiap rangkaian yang diproduksi PT Industri Kereta Api di Madiun terbuat dari aluminium, dengan dimensi tinggi rangkaian 3.700 mm, tinggi lantai kereta 1.025 mm, jarak antar bogie 11.500 mm, dan panjang setiap rangkaian kereta dengan tiga gerbong sepanjang 51800 milimeter (169,9 ft). Bahan pembuat rangkaian kereta yang diproduksi PT Industri Kereta Api sebagian besar sudah berasal dari material dalam negeri.[16]
Stasiun[sumber]
Ada 13 stasiun pada jalur LRT ini dan 1 depot.[17] 12 stasiun di antaranya telah beroperasi sejak 6 Oktober 2018.[18] Setiap rangkaian kereta akan berhenti selama 1 menit di setiap stasiun, kecuali di setiap stasiun akhir perjalanan rangkaian kereta akan berhenti selama 10 menit[19] 5 di antara 13 stasiun yang ada dilengkapi dengan jembatan penghubung dengan bangunan-bangunan di sekitarnya.[20]
Direncanakan setiap stasiun LRT Palembang akan terhubung dengan layanan bus Trans Musi yang telah beroperasi sebelumnya.[21]
| Stasiun | Layanan penghubung Trans Musi | Tempat terdekat | Keterangan |
|---|---|---|---|
| Bandara SMB II | Koridor 5 | Bandar Udara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II | Dibuka pada 1 Agustus 2018[22] |
| Asrama Haji | Koridor 5 | Asrama Haji Palembang | Dibuka pada 7 September 2018[23] |
| Punti Kayu | Koridor 1 & 9 | Punti Kayu, Gramedia World Palembang | Dibuka pada 24 September 2018[24] |
| RSUD | Koridor 1 & 9 | RSUD Sumatra Selatan | Dibuka pada 25 September 2018[25] |
| Garuda Dempo | - | Korem 044/Garuda Dempo | Dibuka pada 19 Oktober 2018 |
| Demang | Koridor 2 | SMKN 2 Palembang | Dibuka pada 6 Oktober 2018[26] |
| Bumi Sriwijaya | Koridor 3 & 6 | Palembang Icon, Stadion Bumi Sriwijaya | Dibuka pada 1 Agustus 2018[22] |
| Dishub | Koridor 6 | Kantor Gubernur Sumatra Selatan | Dibuka pada 20 September 2018[27] |
| Cinde | Koridor 1, 4, 6, & 9 | Pasar Cinde | Dibuka pada 1 Agustus 2018[22] |
| Ampera | Koridor 1 & 3 | Jembatan Ampera, Pasar 16 Ilir, Benteng Kuto Besak | Dibuka pada 1 Agustus 2018[22] |
| Polresta | Koridor 9 | Mapolresta Palembang, Kantor Pusat Bank Sumsel Babel | Dibuka pada 27 September 2018[28] |
| Jakabaring | Koridor 9 | Kompleks Olahraga Jakabaring | Dibuka pada 1 Agustus 2018[22] |
| DJKA | Koridor 9 | OPI Mall, Perumahan Ogan Permata Indah | Dibuka pada 1 Agustus 2018[22] |
Rel kereta[sumber]
LRT Palembang berjalan melalui rel-kereta-layang tanpa balast dengan lebar sepur 1.067 mm, yang membentang sepanjang 23,4 kilometer (14,5 mi) dari Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II di ujung barat menuju Depot OPI di ujung timur. Teknologi persinyalan kereta ini menggunakan metode sinyal fixed-block, dengan dilengkapi peralatan rel ketiga.[29][19]Rel kereta dibangun menyeberangi Sungai Musi, sejajar dengan Jembatan Ampera.[30]
Jumlah penumpang dan tarif[sumber]
Pemerintah menargetkan jumlah penumpang sebesar 96.000 orang per hari melalui proyek ini, dengan perkiraan pertambahan jumlah penumpang hingga 110.000 orang pada tahun 2030.[31] Tarif sekali angkut penumpang kereta ini sebesar Rp5.000,00 per penumpang dari dan ke stasiun mana saja, kecuali untuk ke Bandara SMB II dipatok tarif Rp10.000,00 per penumpang.[32] Tarif ini disubsidi pemerintah dengan kisaran Rp200-300 milyar setahun hingga jumlah penumpang yang menaiki moda ini dapat menutup biaya operasional







0 #type=(blogger):
Post a Comment